UNICORN778 Ketika Cerita dan Gambar Menjadi Ruang Ingatan di REST(AT): Ruang Temu Warga Peluang Terburuk Saat Bermain Slot Online
Ketika Cerita dan Gambar Menjadi Ruang Ingatan di REST(AT): Ruang Temu Warga
Dalam rangkaian kegiatan REST(AT): Ruang Temu Warga, KontraS menghadirkan “Stories in Line: Storytelling and Live Drawing” pada 9 September 2026 di Live House M Bloc Space, Jakarta Selatan. Melalui kegiatan ini, REST(AT) sendiri menjadi bagian dari upaya menghadirkan Living Knowledge Exhibition sebagai sebuah ruang yang mengajak pengunjung untuk menelusuri dan berinteraksi dengan arsip visual, memorabilia, serta catatan kesaksian yang merekam peristiwa Prahara Agustus 2025.
Berbeda dengan pameran yang menempatkan arsip semata sebagai objek untuk dilihat, Stories in Line mengajak peserta untuk menengok kembali pengalaman personal yang terbentuk setelah peristiwa Agustus 2025. Melalui medium cerita, gambar, bunga, dan batu, peserta diajak untuk mengenali luka yang ditinggalkan, menemukan ketangguhan yang tumbuh dari pengalaman tersebut, serta merefleksikan ruang-ruang pembelajaran yang terbentuk dalam perjalanan masing-masing.
Sesi storytelling dipandu oleh Kania dari Asia Justice and Rights (AJAR) dengan mengangkat tema “Berhenti untuk Bangkit Berkali-kali.” Dalam sesi yang sama, Anis dan Andre dari Gambar Selow melakukan live drawing dengan menerjemahkan cerita, emosi, dan suasana yang berkembang sepanjang proses ke dalam bentuk visual.
Kania membuka ruang dengan mengajak peserta untuk sejenak berhenti dari aktivitas perjuangan dan melihat kembali apa yang sebenarnya terjadi. Baginya, gelombang gerakan pada 2025 tidak dapat dilihat hanya sebagai peristiwa yang berlangsung pada Agustus. Berbagai keresahan telah muncul jauh sebelumnya, termasuk melalui situasi “Indonesia Gelap” dan berbagai peristiwa lain yang membentuk pengalaman masyarakat sipil.
“Rasanya gelombang 2025 nggak cuma di bulan Agustus aja, sebenarnya ada yang dari kemarin-kemarin, dari Indonesia Gelap, misalnya. Nah, kesempatan ini bisa kita pakai buat berhenti dan mengenali apa yang sebenarnya terjadi, agar kita makin semangat untuk bangkit berkali-kali lagi,” ujar Kania.
Bagi Kania, berhenti bukan berarti menyerah. Berhenti justru menjadi kesempatan untuk mengenali luka dan memahami bagaimana kekerasan serta impunitas memengaruhi orang-orang yang terus bekerja dalam gerakan. Proses tersebut kemudian menjadi bagian dari upaya “unlearning impunity”, yakni membongkar kembali cara pandang dan pengalaman yang selama ini membuat kekerasan seolah menjadi sesuatu yang harus terus ditanggung.
Ruang cerita tersebut diikuti oleh peserta dengan latar belakang yang beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, aktivis, fotografer dan videografer gerakan, hingga keluarga korban. Keragaman pengalaman tersebut menjadi alasan sesi dimulai dengan perkenalan. Setiap peserta diminta menyebutkan nama, kegiatan sehari-hari, serta peran mereka selama peristiwa Agustus 2025. Setelah itu, peserta menggunakan name tag sebagai penanda identitas sekaligus bagian dari upaya membangun ruang yang setara.
Sebelum memasuki cerita personal, peserta bersama-sama menyusun house rules. Dua kesepakatan utama yang kemudian disepakati adalah menghargai perbedaan pendapat serta mengapresiasi setiap orang yang berani bercerita, termasuk melalui tepuk tangan setelah seseorang menyelesaikan ceritanya. Kesepakatan tersebut menjadi penting karena cerita yang dibawa ke dalam ruang bukan sekadar pengalaman biasa, melainkan pengalaman yang bagi sebagian peserta masih menyimpan luka.
Dari Batu dan Bunga: Menuturkan Pengalaman dan Ketangguhan Pasca-Agustus 2025
Setiap peserta kemudian diminta mengambil satu batu dan satu bunga. Keduanya digunakan sebagai simbol untuk merefleksikan perasaan setelah menceritakan pengalaman selama dan pasca-Agustus 2025.
Bunga menjadi simbol ketika seseorang merasa masih terluka oleh peristiwa yang terjadi, tetapi telah mampu menerima dan berdamai dengan pengalaman tersebut. Sementara batu menjadi simbol bagi perasaan yang masih berat, termasuk kemarahan, kebencian, atau kekecewaan yang belum selesai.
Dari simbol tersebut, peserta kemudian diajak menjawab dua pertanyaan: “Apa yang terjadi saat Agustus 2025 pada dirimu yang orang lain belum tahu?” dalam ruang Ketangguhan Personal, serta “Bagaimana cara kamu bertahan tetap hidup dan berjalan pasca-Agustus 2025?” dalam ruang Ruang Belajar.
Salah satu cerita datang dari Pak Hamidi, ayah dari M. Farhan Hamid, yang kehilangan anaknya dalam rangkaian peristiwa Agustus 2025. Ia menceritakan bagaimana Farhan awalnya meminta izin untuk pergi ke makam Affan Kurniawan. Namun, ketika hendak pulang, demonstrasi membuatnya tidak dapat kembali dan akhirnya ia berada dalam kerumunan massa. Ketika gas air mata ditembakkan, Farhan terpisah dari sepupunya. Hari-hari setelahnya menjadi masa penuh ketidakpastian karena Farhan tidak kunjung pulang. Situasi tersebut membuat Pak Hamidi merasa semakin lelah dan muak. Barulah pada akhir Oktober 2025, Pak Hamidi mendapat telepon dari pihak Kepolisian untuk datang ke RS Polri setelah adanya temuan dua kerangka jenazah di Gedung ACC Kwitang. Hasil tes DNA menunjukkan bahwa salah satu dari kerangka tersebut adalah kerangka Farhan.
Di tengah kehilangan tersebut, Pak Hamidi kemudian memilih sebuah batu untuk diletakkan pada ruang Ketangguhan Personal. Batu tersebut menjadi simbol dari luka yang masih ia bawa. Sementara itu, ia memilih bunga untuk ruang Ruang Belajar. Setelah kehilangan anaknya, ia banyak melakukan kegiatan pengajian sebagai salah satu cara untuk terus menjalani kehidupan.
Cerita lain datang dari Dito, seorang fotografer dan videografer yang selama ini bekerja dalam lingkungan gerakan sosial. Ia menceritakan bagaimana ia mengalami kebuntuan dalam kerja-kerja kreatif yang biasa ia lakukan. Bahkan ketika ia memiliki kerja sama dengan KontraS untuk membuat empat video, ia hanya mampu menyelesaikan satu video. Tiga pekerjaan lainnya tidak kunjung diselesaikan karena ia mengalami kebuntuan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Berbagai cara dilakukan untuk keluar dari kondisi tersebut, termasuk mencoba berolahraga muay thai dan mencoba menelusuri arsip-arsip visual mengenai gerakan sosial yang ia miliki selama ini. Ia kemudian menyadari bahwa pekerjaannya tetap memiliki makna. Kesadaran tersebut perlahan menghidupkan kembali semangatnya untuk memegang kamera dan membuat karya.
Berbeda dengan Pak Hamidi, Dito memilih batu untuk ruang Ketangguhan Personal dan tidak meletakkan bunga pada pengalaman Agustus 2025. Pilihan tersebut menjadi bagian dari kejujurannya dalam mengakui bahwa ada luka dan kekecewaan yang belum selesai.
Dari Cerita Personal Menjadi Ruang Belajar Bersama
Cerita-cerita yang muncul kemudian tidak berhenti sebagai pengalaman individu. Kania mengajak peserta melihat hubungan antara satu cerita dengan cerita lainnya. Meski setiap orang mengalami peristiwa Agustus 2025 dengan cara berbeda, terdapat satu pengalaman yang berulang: peristiwa tersebut meninggalkan luka yang memengaruhi kehidupan personal masing-masing.
Luka tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Bagi sebagian orang, ia muncul sebagai kehilangan orang terdekat. Bagi yang lain, luka hadir sebagai kehilangan kepercayaan, kebuntuan dalam bekerja, kemarahan, atau kesulitan untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Namun, ruang tersebut juga memperlihatkan bahwa bertahan tidak selalu berarti melupakan. Bertahan dapat berarti mencari cara baru untuk menjalani kehidupan, menemukan kembali makna dari pekerjaan, membangun ruang spiritual, atau sekadar memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak.
“Memang kejadian Agustus 2025 itu menyebabkan luka, entah itu sedikit atau besar. Luka tetaplah luka,” ujar Kania ketika merangkum cerita para peserta.
Cerita yang telah dibagikan kemudian diposisikan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai sesuatu yang dapat menjadi energi untuk kembali bergerak. Apa yang sebelumnya hanya menjadi pengalaman personal perlahan berubah menjadi pengetahuan bersama sebuah living knowledge yang tumbuh dari pengalaman, ingatan, dan kesaksian orang-orang yang mengalaminya.
Pada penghujung sesi, Gambar Selow, Anis, dan Andre memperlihatkan hasil live drawing yang mereka buat sepanjang proses storytelling. Gambar-gambar tersebut menjadi bentuk visual dari cerita yang sebelumnya hanya hadir melalui suara. Setiap goresan menangkap suasana, percakapan, dan pengalaman yang dibagikan peserta dalam ruang tersebut.
Melalui Stories in Line, REST(AT): Ruang Temu Warga tidak hanya menjadi tempat untuk mengingat Prahara Agustus 2025, tetapi juga ruang untuk memahami bagaimana peristiwa tersebut terus hidup dalam tubuh, ingatan, pekerjaan, dan kehidupan orang-orang yang mengalaminya.
Pada akhirnya, bangkit tidak selalu berarti terus melangkah. Ada kalanya kita perlu berhenti sejenak untuk mengingat apa yang telah terjadi, mengenali luka yang masih tersisa, dan memberi ruang bagi diri untuk memahami pengalaman. Sebab, dari jeda itulah kita dapat menemukan kembali kekuatan untuk melanjutkan perjalanan dan bangkit, berkali-kali.